KISAH

Ketika marcapada terbentuk, Pandita dan Kelana tercipta untuk menjadi penyeimbang energi yang mendukung kehidupan di dalamnya.

 

Perpaduan penciptaan keduanya menciptakan jalur evolusi semenjak era makhluk bersel satu muncul.

Pandita lebih bijak dan proporsional dalam memanfaatkan energi marcapada untuk menciptakan jalur evolusi. Sementara itu, Kelana cenderung menyedot energi marcapada secara berlebihan sehingga menciptakan ketidakseimbangan sistem alam yang berujung pada lahirnya bencana alam.

 

Perbedaan prinsip inilah yang memicu perseteruan Pandita dan Kelana.

Setelah melalui masa penguncian selama ribuan tahun, garis evolusi telah sampai pada penciptaan manusia. Kelana bangkit, lalu menciptakan pasukan pendamping Garaka.

 

Dengan bangkitnya Kelana dan Sandekala, Pandita kembali membangkitkan ruh yang dulu telah sirna dan menggabungkannya dengan sosok 5 manusia terpilih. Maka lahirlah Ganendra, reinkarnasi dari para Ruh yang memiliki wujud separuh manusia separuh binatang. Kelana menciptakan monster dengan cara menggabungkan entitas spesies yang ada di muka bumi untuk memusnahkan manusia yang mereka anggap sebagai makhluk perusak alam.

 

Dalam pertarungan ini, Sandekala dan Kelana kembali dikunci oleh Ganendra dengan mengorbankan nyawa mereka berlima

Agar keseimbangan alam tetap terjaga, Pandita menciptakan 5 entitas penjaga yang dihidupkan dengan melebihkan energi marcapada pada proses penciptaannya

Sementara itu, Kelana membuat tandingan Ruh dengan menciptakan Sandekala generasi pertama bernama Garaka

Perang pertama antara kubu Pandita dan Kelana terjadi pada era meletusnya Gunung Toba, titik kunci yang nantinya akan mewujud menjadi pusat marcapada di hamparan bumi Dwipantara. Pada peperangan ini, Pandita bersama 5 ruh-nya berhasil mengunci kekuatan Garaka beserta Kelana ke dalam pusat bumi

NusaV © 2017 - 2018

Padma Pusaka Nusantara / Shogakukan Asia